By :

Admin

eCommerce Indonesia Perlu Belajar dari Taiwan ICT Roadshow 2014

  • Wednesday, Jul 4, 2018
  • by admin, 2054 Views

"Perkembangnya internet di tanah air yang semakin pesat telah berdampak pada tumbuhnya transaksi secara online. Dengan total nilai transaksi e-commerce di tahun 2013 mencapai US$ 8 miliar atau sekitar Rp 94 triliun dan diprediksi akan meningkat hingga mencapai US$ 24 miliar atau sekitar Rp 283 triliun pada 2016, menjadikan bisnis online atau yang biasa disebut e-commerce menjadi bagian penting bagi pertumbuhan perekonomian negara."

AGUS Tjandra, Vice Chairman & Foreign Relation Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), melihat potensi e-commercedi Indonesia memang sangat menjanjikan, namun pencapaian yang selama ini dirasakan belum memberikan hasil yang diinginkan. “Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 240 juta jiwa dan besarnya pengguna internet yang mencapai 74 juta, ternyata hanya mencatatkan 4,6 juta yang melakukan transaksi online di tahun 2013. Hal ini tentunya belum merupakan angka yang besar dan menjadikan tantangan pertama dari perkembangan bisnis online di Indonesia,” ujar Agus, disela-sela penyelenggaraan Taiwan-Indonesia ICT Roadshow 2014 yang bertemakan “Taiwan E-commerce; Success Story”, di Hotel Grand Mercure Harmoni, Jakarta (2/9). Hal lain yang harus dihadapi adalah metode pembayaran bisnis online yang masih menggunakan metode konvensional, yaitu transfer tunai dan bahkan cash on delivery (COD) yang merupakan pertanda masih belum tingginya kepercayaan pengguna internet terhadap metode pembayaran via kartu kredit maupun metoda e-payment lainnya. Pengguna layanan e-commerce juga masih terbatas pada para profesional yang merupakan pekerja kantoran dan belum merata pada berbagai kalangan pengguna internet lainnya. Belum lagi, pasar e-commerce Indonesia masih didominasi pengaruh pihak asing sehingga perlu dibuat langkah-langkah agar pelaku bisnis online Indonesia menjadi semakin kuat daya saingnya dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. idEA sebagai wadah pelaku industri e-commerce di Indonesia mengambil langkah dengan menjalin kerjasama dengan pihak Taiwan, yaitu Taipei Computer Association (TCA). Disebutkan Agus, kerjasama ini akan  menjadi sarana edukasi dan membuka peluang investasi potensial yang ada di Indonesia. “E-commerce di Taiwan 10 tahun lebih dulu maju dari Indonesia sehingga kita perlu banyak informasi dari Taiwan untuk membangun e-commerce di dalam negeri dan menjadikan kerjasama ini kedepannya lebih konkrit lagi.” Lebih lanjut, berikut ini wawancara BISKOM dengan pria kelahiran Palembang, 22 Agustus 1974  yang juga pendiri dan CEO Lojai.com, salah satu situs e-commerce terbesar di Indonesia ini. idEA dan TCA telah melakukan penandatanganan MoU, apa saja bentuk kerjasama yang akan dilakukan? Rencananya, kami akan melalui serangkaian program interaktif, diantara kunjungan perusahaan, presentasi bisnis, pertemuan bisnis, dan workshop. Kerjasama yang idEA lakukan tidak hanya terbatas dengan Taiwan, kedepannya kami akan banyak melakukan kerjasama dengan pihak lain dan akan banyak program yang dijalankan. Dengan semakin banyak menjalin hubungan dengan pihak luar, maka akan semakin banyak informasi, pembelajaran dan pemberdayaan yang didapatkan. Dari sisi strategi akan semakin tahu apa saja yang negara lain lakukan. Berapa nilai bisnis dari kerjasama yang dijalin ini? Kalau kami konteknya sebagai asosiasi tidak merambah area komersil. Jadi kerjasamanya lebih kepada edukasi dan berbagi informasi. Edukasinya kita perlu belajar ke Taiwan, bertemu dengan dengan asosiasi-asosiasi di sana untuk belajar dan mengetahui langkah-langkah yang mereka lakukan untuk memajukan industri dinegaranya. Ini tentunya menjadi kesempatan yang bagus sekali untuk Indonesia. Mengapa kerjasama ini lebih mengarah ke edukasi? E-commerce di Indonesia terbilang industri baru yang tentunya edukasi  dan belajar dari negara lain yang lebih dulu maju menjadi hal yang utama sekali. Dari sisi Taiwan sendiri dengan kerjasama ini mereka akan terhubung dengan pelaku industri e-commerce di Indonesia agar lebih naik industrinya. Selain itu, asosiasi kami kan terdiri atas 76 perusahaan yang juga butuh networking untuk mengembangkan bisnis. Jadinya kerjasama ini akan saling mengisi dan menguntungkan. Mengapa e-commerce di Indonesia bisa tertinggal dari Taiwan? Boleh dikatakan kematangan ekonomi Taiwan lebih dulu dan di atas kita. Di sana infrastrukturnya sudah ada semua, size negaranya juga lebih kecil dibandingkan Indonesia dan e-commerce sudah menjadi lifestyle. Tetapi saya melihat e-commerce akan sukses sekali di negara-negara yang mempunyai penduduk yang besar dan memiliki spending yang besar juga. Jadi bisa dibilang potensi e-commerce Taiwan tidak sebesar Indonesia. Pastinya kita akan bisa mengejar ketertinggalan yang ada. Indonesia dengan pangsa pasar yang besar harus dijaga dengan cara memajukan industri lokal khususnya e-commerce. Jangan sampai nantinya negara asing yang membentuk asosiasi di Indonesia dan menguasai pasar. Lalu, kapan e-commerce Indonesia bisa seperti Taiwan yang sudah advance teknologinya? Kita lihat 3 tahun kedepan, karena e-commerce itu yang terpenting adalah infrastrukturnya. Nah, infrastruktur inikan tugasnya pemerintah untuk membangun, seperti membuat jalan yang dapat mempercepat transportasi pengiriman barang dan jangan sampai ada kemacetan yang berlarut-larut. Memang, sampai hari ini pemerintah sudah cukup support dan diharapkan dengan pemerintahan yang baru akan lebih support lagi. Inginnya ada regulasi yang mengatur percepatan infrastruktur. Itu yang terpenting. Dari pelaku e-commerce sendiri apa yang akan dilakukan untuk mengejar ketertinggalan? Industri akan mengikuti situasi. Infrastruktur bagus, semuanya bagus maka otomatis e-commerce akan naik. Bisa dibayangkan dengan situasi seperti sekarang ini saja percepatan pertumbuhan ekonomi kita lebih cepat dari negara-negara Asean lainnya. Orang Indonesia itu kreatif dengan kondisi ini bisa tumbuh lebih cepat, tentunya bila infrastrukturnya semakin bagus maka akan lebih cepat lagi pertumbuhannya. Kepercayaan terhadap e-commerce masih menjadi suatu kendala. Bagaimana asosiasi menyikapi hal ini? Dari kami sudah mengeluarkan yang namanya trust mark. Jadi bila masyarakat belanja di salah satu e-commerce seperti Lojai.com, maka akan terlihat tanda trust mark di kanan atas yang memverifikasi bahwa belanja disana aman dan merupakan anggota idEA. Untuk menjadi anggota, tentunya ada beberapa kriteria yang harus penuhi pelaku e-commerce. Jadi tidak sembarangan perusahaan bisa masuk menjadi bagian dari asosiasi kam, diperlukan legalitas. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi bahwa yang menjadi member idEA merupakan perusahaan yang identitasnya jelas dan bisa diketahui pemiliknya. Jadi bila ada masalah bisa diketahui harus melaporkan kemana. Adakah teknologi yang digunakan untuk menjamin keamanan transaksi yang masih menjadi momok bagi pembelanja online? Faktor secure memang harus diperkuat karena konsumen online selalu memperhatikan faktor keamanan. DI Lojai.com misalnya, telah dilengkapi dengan 3D secure system serta secure socket layer(SSL). Saat hendak masuk ke proses pembayaran, otomatis link akan berubah menjadi https (hypertext transfer protocol secure). Https merupakan kombinasi antara http da SSL/TLS. Jadi, lalu lintas data telah terenkripsi. Kedepannya, trend e-commerce di Indonesia akan seperti apa? Trendnya akan sangat pesat. Sekali. Saya pernah mengatakan di beberapa kesempatan, jika kita tidak terjun ke e-commerce 5 tahun lalu, itu tak masalah. Namun jika tak melakukan ini 5 tahun ke depan, maka akan menyesal.  Dimana nilai belanja retail telah mencapai US$ 100 miliar, sementara penetrasi secara online baru 0,1% nya. Sisanya merupakan potensial dan itu masih sangat besar sekali sehingga e-commerce menjadi keharusan untuk berkembang. •ANDRI/M.TAUFIK (foto) Source : http://www.biskom.web.id/2014/09/26/agus-tjandra-e-commerce-indonesia-perlu-belajar-dari-taiwan.bwi

Read More

REKOR BISNIS 12 (ReBi 12) Recognition List

  • Wednesday, Jul 4, 2018
  • by admin, 1756 Views

Lojai.com merupakan Belanja Online dengan Sistem Cicilan Pilihan & Kartu Kredit Terbanyak masuk kedalam urutan 10 dalam REkor BIsnis ke 12 (REBI ke 12) pada tahun 2014 yang merupakan salah satu usaha yang dicetuskan oleh Agus Tjandra yang juga merupakan pelopor cicilan online pertama di Indonesia.  

Read More

Bloomberg BusinessWeek, 1st Indonesia eCommerce Icon & Technopreneur

  • Tuesday, Jul 3, 2018
  • by admin, 2818 Views

Siapa yang tidak mengenal Amazon.com? Toko online yang menjual buku-buku, film, game, CD, DVD, perangkat lunak dan perangkat keras komputer, serta produk-produk terkait gaya hidup itu begitu dikenal di Amerika Serikat. Bahkan, boleh dibilang Amazon merupakan toko ranah maya yang terbesar sekaligus kiblate-commerce global saat ini. Siapa pun yang membicarakan e-commerce, sulit rasanya mengesampingkan kebesaran Amazon.

Beberapa tahun lalu, perusahaan yang berbasis di Seattle, Washington, itu berhasil membukukan laba usaha senilai $862 juta dari pendapatan sebesar $48,07 miliar. Sampai kuartal pertama 2012, jumlah karyawannya telah mencapai 65.600 orang. Padahal, toko yang melayani permintaan dari berbagai penjuru dunia itu baru berumur 18 tahun. Dan, ketika mendirikannya pun Jeff Bezos masih tercatat sebagai karyawan di perusahaan investasi serta pengembangan teknologi DE Shaw & Co.

Sementara itu, di belahan wilayah yang lain, publik China begitu mendambakan Jack Ma. Ma semula adalah guru bahasa Inggris di Hangzhou Teachers College, Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Pada 1999, Ma mengembangkan Alibaba.com, e-commerce berkonsepmarketplace yang diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan di mana pun berada yang ingin menjual atau membeli sebuah produk.

Dari situlah Ma dikenal dan dikenang. Sebab, Alibaba.com kini berhasil menarik sekitar 79 juta pengguna dari 240 negara. Situs yang kemudian berkembang menjadi Alibaba Group tersebut telah memiliki beberapa anak perusahaan, antara lain Taobao Marketplace, Tmall.com, eTao, dan Alibaba Cloud Computing. Apabila dijual saat ini, kelompok bisnis itu diramalkan bernilai $35 miliar atau setara dengan Rp300 triliun. Itulah yang membuat Ma dinobatkan sebagai Pemimpin Muda Global oleh World Economic Forum pada 2001.

Apa yang menjadi persamaan antara Amazon dengan Alibaba atau Jeff Bezos dengan Jack Ma? Amazon dan Alibaba sama-sama dikembangkan pada 1990-an. Sedangkan para pendirinya sama-sama lahir pada 1964. Yang menjadi pertanyaan, apa menariknya? Sepuluh tahun setelah kelahiran Bezos dan Ma, tepatnya 22 Agustus 1974, di Kota Palembang, Sumatera Selatan, lahirlah Agus Tjandra yang amat bermimpi menjadi Jeff Bezos atau Jack Ma-nya Indonesia.

Agus, demikian ia akrab disapa, menghabiskan masa kecil di kota kelahirannya. Ia baru merantau ke ibu kota Jakarta ketika melanjutkan studi ke Universitas Bina Nusantara pada 1993. Karena ingin mempelajari sistem informasi manajemen, ia mengambil jurusan Management Information Systems. Pada 1998, usai dinyatakan lulus dari kampus, ia mengawali kariernya dengan bergabung menjadi staf biasa di perusahaan eksportir seafood.

Di pabrik eksportir seafood tersebut, Agus mendapatkan banyak pelajaran yang berharga. Ia menjadi tahu pengelolaan bisnisnya, mulai dari mencari bahan baku hingga proses pengiriman ke pelanggan di luar negeri. Agus pun dipercaya menjadi overseas marketing untuk melayani pembeli dari Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa dengan posisi terakhir marketing manager.

Tapi, Agus tak bertahan lama. Ia “dibajak” oleh salah satu perusahaan international trading terbesar dari Jepang setahun kemudian untuk mengurusi kantor perwakilan yang baru dibuka di Jakarta. Tentu saja bebannya tak bisa dibilang ringan karena ia bertanggung jawab langsung kepada atasannya yang berasal dari kantor pusat. Selain itu, ia wajib membesarkan perusahaan tersebut yang masih berada di titik nol. Padahal, kala itu Indonesia sedang terpuruk akibat krisis ekonomi yang melanda.

Berbagai tantangan itu justru yang membuat Agus lekas memahami arti bisnis sebenarnya. Ia banyak belajar dari keadaan. Disiplin, selalu berpikir positif, dan terus memikirkan berbagai inovasi merupakan sedikit hal yang ia lakukan tanpa henti demi membesarkan perusahaan. Soal inovasi, misalnya, ia tak pasrah dengan sedikit klien. Ia rela mendatangi perusahaan-perusahaan nasional untuk mengajaknya memasarkan produk-produk mereka ke pasar mancanegara.

Karena itu, setiap bulan ia mengunjungi negara-negara potensial untuk mencari para pembeli produk-produk dari Indonesia. Tidak hanya seafood, ia memperbanyak dengan produk kopi, lada, atau apa saja yang sekiranya laku di pasar internasional. “Sehingga, hampir semua negara sudah pernah saya kunjungi, terutama China dan Hong Kong serta negara-negara di kawasan Eropa,” katanya.

Dan, yang paling berguna bagi penyuka pop mandarin dan jazz itu ialah menjadi mengerti bagaimana proses manajemen rantai pasokan (supply chain management) sebuah barang, mulai dari mencari penjual, menemukan dan melobi pembeli, mengirimkan, sampai mengatur pembayaran, dan lain sebagainya. Ia pun berpengalaman dalam membuka pasar-pasar baru. Pengalaman itulah yang membuat ia berpikir hal-hal baru, termasuk membuka bisnis sendiri.

Pada 2005, karena menyukai refleksi, Agus mencoba peruntungan di bisnis refleksologi. Tidak lama berselang, ia membuka gerai salon kecantikan bernama Salon Anna Wijaya di ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan, atas hak waralaba dari Anna Wijaya, temannya. “Pada dasarnya, saya hobi berbisnis. Jadi, apa saja yang sekiranya menguntungkan, akan saya bisniskan,” ungkapnya. Walau sudah membuka bisnis sendiri, bukan berarti Agus telah keluar dari perusahaan international trading Jepang itu.

Agus baru mundur pada 2007 setelah jiwa bisnisnya semakin menggelora. Ia lantas mendirikan PT Agna Prosperindo Abadi, perusahaan penyedia katalog belanja bagi para nasabah perbankan. Prosesnya hampir mirip dengan perusahaan trading bahwa perusahaan tersebut mengimpor barang-barang bermerek asal Jepang, Amerika Serikat, China, Taiwan, dan Hong Kong untuk dipasarkan melalui katalog. Untuk menjalankan bisnisnya, ia menggandeng bank-bank penyedia kartu kredit.

Percaya atau tidak, dalam menjalankan bisnisnya itu, yang nota bener terkait kartu kredit, Agus hanya bermodalkan kartu kredit pula. Ceritanya, ketika menjadi international trader di perusahaan Jepang, ia sering mendapat tawaran kartu kredit. Jika orang lain sibuk menolaknya dengan berbagai alasan, ia malah selalu menerimanya. Bahkan, sampai saat ini memiliki 20 kartu kredit dari berbagai bank yang berbeda.

Berbekal kartu kredit itulah ia berbelanja barang-barang yang memungkinkan untuk dijual kembali melalui katalog. Fokus produknya adalah gadget, aksesori, peralatan rumah tangga, dan produk-produk penopang gaya hidup. Baginya, ada ceruk yang bisa dijadikan peluang bisnis sehingga ia berani melakukan dengan cara itu. “Memang harus berani,” ujarnya. “Mungkin kelebihan saya, saya bisa melihat tren yang akan terjadi di masa depan.”

Sekali waktu, ia mengimpor gelang kesehatan merek Magnvm dan memasarkannya melalui katalog yang ia buat. Tak disangka, permintaannya begitu membludak, bahkan meraih predikat Best Seller dari Bank Internasional Indonesia pada 2008. Atas kesuksesan itu, bank-bank lantas berlomba-lomba mengandeng Agnaprosperindo. Reputasi Agus dan perusahaannya pun semakin kinclong di mata kalangan perbankan. Sampai akhirnya tren belanja online mewabah di Indonesia dan ditangkap Agus dengan membuka toko PasarKredit.com.

Besarnya potensi pasar e-commerce nasional yang semakin tumbuh membuat Agus makin yakin untuk menyeriusi bisnis tersebut. Sayangnya, konsumen nasional terlalu gengsi untuk berbelanja di PasarKredit.com yang mengharuskan Agus mengubah namanya (rebranding) menjadi Lojai.com pada 2010. Lojai diambil dari bahasa Portugis yang bermakna Toko dengan konsep online department store. “Orang Indonesia itu malu kalau disebut barangnya kreditan. Makanya kami harus melakukan rebranding.”

Pasca-rebranding, Lojai.com langsung mendapat sambutan yang meriah dari pengguna internet di Tanah Air. Posisinya pun melesat mendekati Rakuten Belanja Online asal Jepang dan Blibli.com milik keluarga Djarum. Berbeda dari e-commerce lainnya, selain memasarkan lebih dari 100 merek-merek kelas menengah atas seperti Apple, Samsung, dan Sony, bahkan satu-satunya toko online yang dipercaya memasarkan merek St Dupont, Lojai.com menawarkan cicilan hingga 24 bulan dari 14 kartu kredit, baik MasterCard, Visa, maupun lainnya. Padahal, kompetitornya paling banyak hanya memiliki 2-3 pilihan kartu kredit.

Selain itu, kini Lojai.com sedang mempersiapkan diri berekspansi ke kawasan Asia Tenggara, khususnya Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Brunei Darussalam. “Di dalam negeri, saya yakin Lojai.com akan memiliki 9 juta pelanggan selama lima tahun ke depan,” kata Agus. “Dan, kalau memungkinkan, kami akan segera ekspansi ke luar negeri.” Barangkali itulah jalan bagi Agus untuk bisa disebut Jeff Bezos atau Jack Ma-nya Indonesia. “Obsesi saya ingin mencetak sejarah baru di dunia e-commerce Tanah Air,” kata penggemar film kungfu itu.[Bloomberg Businessweek Indonesia]

 

Read More