Lojai.com merupakan Belanja Online dengan Sistem Cicilan Pilihan & Kartu Kredit Terbanyak
masuk kedalam urutan 10 dalam REkor BIsnis ke 12 (REBI ke 12) pada tahun 2014 yang merupakan salah satu usaha yang dicetuskan oleh Agus Tjandra yang juga merupakan pelopor cicilan online pertama di Indonesia.
Siapa yang tidak mengenal Amazon.com? Toko online yang menjual buku-buku, film, game, CD, DVD, perangkat lunak dan perangkat keras komputer, serta produk-produk terkait gaya hidup itu begitu dikenal di Amerika Serikat. Bahkan, boleh dibilang Amazon merupakan toko ranah maya yang terbesar sekaligus kiblate-commerce global saat ini. Siapa pun yang membicarakan e-commerce, sulit rasanya mengesampingkan kebesaran Amazon.
Beberapa tahun lalu, perusahaan yang berbasis di Seattle, Washington, itu berhasil membukukan laba usaha senilai $862 juta dari pendapatan sebesar $48,07 miliar. Sampai kuartal pertama 2012, jumlah karyawannya telah mencapai 65.600 orang. Padahal, toko yang melayani permintaan dari berbagai penjuru dunia itu baru berumur 18 tahun. Dan, ketika mendirikannya pun Jeff Bezos masih tercatat sebagai karyawan di perusahaan investasi serta pengembangan teknologi DE Shaw & Co.
Sementara itu, di belahan wilayah yang lain, publik China begitu mendambakan Jack Ma. Ma semula adalah guru bahasa Inggris di Hangzhou Teachers College, Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Pada 1999, Ma mengembangkan Alibaba.com, e-commerce berkonsepmarketplace yang diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan di mana pun berada yang ingin menjual atau membeli sebuah produk.
Dari situlah Ma dikenal dan dikenang. Sebab, Alibaba.com kini berhasil menarik sekitar 79 juta pengguna dari 240 negara. Situs yang kemudian berkembang menjadi Alibaba Group tersebut telah memiliki beberapa anak perusahaan, antara lain Taobao Marketplace, Tmall.com, eTao, dan Alibaba Cloud Computing. Apabila dijual saat ini, kelompok bisnis itu diramalkan bernilai $35 miliar atau setara dengan Rp300 triliun. Itulah yang membuat Ma dinobatkan sebagai Pemimpin Muda Global oleh World Economic Forum pada 2001.
Apa yang menjadi persamaan antara Amazon dengan Alibaba atau Jeff Bezos dengan Jack Ma? Amazon dan Alibaba sama-sama dikembangkan pada 1990-an. Sedangkan para pendirinya sama-sama lahir pada 1964. Yang menjadi pertanyaan, apa menariknya? Sepuluh tahun setelah kelahiran Bezos dan Ma, tepatnya 22 Agustus 1974, di Kota Palembang, Sumatera Selatan, lahirlah Agus Tjandra yang amat bermimpi menjadi Jeff Bezos atau Jack Ma-nya Indonesia.
Agus, demikian ia akrab disapa, menghabiskan masa kecil di kota kelahirannya. Ia baru merantau ke ibu kota Jakarta ketika melanjutkan studi ke Universitas Bina Nusantara pada 1993. Karena ingin mempelajari sistem informasi manajemen, ia mengambil jurusan Management Information Systems. Pada 1998, usai dinyatakan lulus dari kampus, ia mengawali kariernya dengan bergabung menjadi staf biasa di perusahaan eksportir seafood.
Di pabrik eksportir seafood tersebut, Agus mendapatkan banyak pelajaran yang berharga. Ia menjadi tahu pengelolaan bisnisnya, mulai dari mencari bahan baku hingga proses pengiriman ke pelanggan di luar negeri. Agus pun dipercaya menjadi overseas marketing untuk melayani pembeli dari Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa dengan posisi terakhir marketing manager.
Tapi, Agus tak bertahan lama. Ia “dibajak” oleh salah satu perusahaan international trading terbesar dari Jepang setahun kemudian untuk mengurusi kantor perwakilan yang baru dibuka di Jakarta. Tentu saja bebannya tak bisa dibilang ringan karena ia bertanggung jawab langsung kepada atasannya yang berasal dari kantor pusat. Selain itu, ia wajib membesarkan perusahaan tersebut yang masih berada di titik nol. Padahal, kala itu Indonesia sedang terpuruk akibat krisis ekonomi yang melanda.
Berbagai tantangan itu justru yang membuat Agus lekas memahami arti bisnis sebenarnya. Ia banyak belajar dari keadaan. Disiplin, selalu berpikir positif, dan terus memikirkan berbagai inovasi merupakan sedikit hal yang ia lakukan tanpa henti demi membesarkan perusahaan. Soal inovasi, misalnya, ia tak pasrah dengan sedikit klien. Ia rela mendatangi perusahaan-perusahaan nasional untuk mengajaknya memasarkan produk-produk mereka ke pasar mancanegara.
Karena itu, setiap bulan ia mengunjungi negara-negara potensial untuk mencari para pembeli produk-produk dari Indonesia. Tidak hanya seafood, ia memperbanyak dengan produk kopi, lada, atau apa saja yang sekiranya laku di pasar internasional. “Sehingga, hampir semua negara sudah pernah saya kunjungi, terutama China dan Hong Kong serta negara-negara di kawasan Eropa,” katanya.
Dan, yang paling berguna bagi penyuka pop mandarin dan jazz itu ialah menjadi mengerti bagaimana proses manajemen rantai pasokan (supply chain management) sebuah barang, mulai dari mencari penjual, menemukan dan melobi pembeli, mengirimkan, sampai mengatur pembayaran, dan lain sebagainya. Ia pun berpengalaman dalam membuka pasar-pasar baru. Pengalaman itulah yang membuat ia berpikir hal-hal baru, termasuk membuka bisnis sendiri.
Pada 2005, karena menyukai refleksi, Agus mencoba peruntungan di bisnis refleksologi. Tidak lama berselang, ia membuka gerai salon kecantikan bernama Salon Anna Wijaya di ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan, atas hak waralaba dari Anna Wijaya, temannya. “Pada dasarnya, saya hobi berbisnis. Jadi, apa saja yang sekiranya menguntungkan, akan saya bisniskan,” ungkapnya. Walau sudah membuka bisnis sendiri, bukan berarti Agus telah keluar dari perusahaan international trading Jepang itu.
Agus baru mundur pada 2007 setelah jiwa bisnisnya semakin menggelora. Ia lantas mendirikan PT Agna Prosperindo Abadi, perusahaan penyedia katalog belanja bagi para nasabah perbankan. Prosesnya hampir mirip dengan perusahaan trading bahwa perusahaan tersebut mengimpor barang-barang bermerek asal Jepang, Amerika Serikat, China, Taiwan, dan Hong Kong untuk dipasarkan melalui katalog. Untuk menjalankan bisnisnya, ia menggandeng bank-bank penyedia kartu kredit.
Percaya atau tidak, dalam menjalankan bisnisnya itu, yang nota bener terkait kartu kredit, Agus hanya bermodalkan kartu kredit pula. Ceritanya, ketika menjadi international trader di perusahaan Jepang, ia sering mendapat tawaran kartu kredit. Jika orang lain sibuk menolaknya dengan berbagai alasan, ia malah selalu menerimanya. Bahkan, sampai saat ini memiliki 20 kartu kredit dari berbagai bank yang berbeda.
Berbekal kartu kredit itulah ia berbelanja barang-barang yang memungkinkan untuk dijual kembali melalui katalog. Fokus produknya adalah gadget, aksesori, peralatan rumah tangga, dan produk-produk penopang gaya hidup. Baginya, ada ceruk yang bisa dijadikan peluang bisnis sehingga ia berani melakukan dengan cara itu. “Memang harus berani,” ujarnya. “Mungkin kelebihan saya, saya bisa melihat tren yang akan terjadi di masa depan.”
Sekali waktu, ia mengimpor gelang kesehatan merek Magnvm dan memasarkannya melalui katalog yang ia buat. Tak disangka, permintaannya begitu membludak, bahkan meraih predikat Best Seller dari Bank Internasional Indonesia pada 2008. Atas kesuksesan itu, bank-bank lantas berlomba-lomba mengandeng Agnaprosperindo. Reputasi Agus dan perusahaannya pun semakin kinclong di mata kalangan perbankan. Sampai akhirnya tren belanja online mewabah di Indonesia dan ditangkap Agus dengan membuka toko PasarKredit.com.
Besarnya potensi pasar e-commerce nasional yang semakin tumbuh membuat Agus makin yakin untuk menyeriusi bisnis tersebut. Sayangnya, konsumen nasional terlalu gengsi untuk berbelanja di PasarKredit.com yang mengharuskan Agus mengubah namanya (rebranding) menjadi Lojai.com pada 2010. Lojai diambil dari bahasa Portugis yang bermakna Toko dengan konsep online department store. “Orang Indonesia itu malu kalau disebut barangnya kreditan. Makanya kami harus melakukan rebranding.”
Pasca-rebranding, Lojai.com langsung mendapat sambutan yang meriah dari pengguna internet di Tanah Air. Posisinya pun melesat mendekati Rakuten Belanja Online asal Jepang dan Blibli.com milik keluarga Djarum. Berbeda dari e-commerce lainnya, selain memasarkan lebih dari 100 merek-merek kelas menengah atas seperti Apple, Samsung, dan Sony, bahkan satu-satunya toko online yang dipercaya memasarkan merek St Dupont, Lojai.com menawarkan cicilan hingga 24 bulan dari 14 kartu kredit, baik MasterCard, Visa, maupun lainnya. Padahal, kompetitornya paling banyak hanya memiliki 2-3 pilihan kartu kredit.
Selain itu, kini Lojai.com sedang mempersiapkan diri berekspansi ke kawasan Asia Tenggara, khususnya Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Brunei Darussalam. “Di dalam negeri, saya yakin Lojai.com akan memiliki 9 juta pelanggan selama lima tahun ke depan,” kata Agus. “Dan, kalau memungkinkan, kami akan segera ekspansi ke luar negeri.” Barangkali itulah jalan bagi Agus untuk bisa disebut Jeff Bezos atau Jack Ma-nya Indonesia. “Obsesi saya ingin mencetak sejarah baru di dunia e-commerce Tanah Air,” kata penggemar film kungfu itu.[Bloomberg Businessweek Indonesia]
Agus Tjandra sebagai salah satu top Asia eCommerce conference speakers sebagaimana dikutip dalam 10times.com bersama dengan beberapa speakers terkemuka lainnya.
Blue Power Technology (BPT), penyedia solusi infrastruktur TI yang juga anak usaha Computrade Technology International (CTI Group), kembali menggelar BPT Industry Solution. Seminar yang menyajikan informasi solusi TI inovatif guna menjawab tantangan industri terkait bisnis dan teknologi, di Ritz Carlton Hotel Mega Kuningan.
BPT Industry Solution mengangkat tema “Empowering City and Business Revolution in Smart Way” dengan mempertemukan para stake holders di bidang TI, termasuk pemerintah dan pelaku bisnis dari BUMN, e-commerce dan lintas industri untuk mendiskusikan solusi smart city dan e-commerce demi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan kemajuan bisnis.
Acara yang mengusung konsep paperless ini dihadiri oleh Country Manager IBM Indonesia Gunawan Susanto, Senior Vice President dan Chief Operation Officer Markplus Inc. Jacky Mussry serta Wakil Ketua Umum Indonesia E-commerce Association (IdEA) dan CEO Lojai.com Agus Tjandra.
Presiden Direktur BPT Lugas m Satrio menyatakan kehadiran Internet-of-Things (IoT) mendorong pemerintah dan industri melakukan transformasi dari layanan konvensional menjadi layanan berbasis internet. Model bisnis saat ini mengutamakan kecepatan dan kemudahan layanan yang melahirkan e-commerce.
Begitu pula program pemerintah dengan mulai dikembangkannya ide smart city melalui integrated IT solution. Melalui BPT Industry Solution ini, kami ingin mengedukasi para stake holders mengenai manfaat TI dalam mempercepat proses pembangunan kota dengan pelayanan yang lebih efisien dan efektif serta memajukan sektor e-commerce di tanah air.
“Tentunya mewujudkan smart city harus diikuti dengan smart people dan smart business. Menjawab hal ini, BPT hadir dengan solusi digital marketing campaign, e-commerce, electronic document transfer and distribution, Internet of Computers (IoC) smart things, dan document management,” tutur dia, Selasa (19/5)
Potensi pengembangan smart city dan e-commerce ini didukung dengan hasil riset dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mengatakan pengguna internet di Indonesia tumbuh 16,2 juta menjadi 88,1 juta di tahun 2014 atau dengan kata lain memiliki penetrasi 34,9 persen.
Presiden IBM Indonesia, Gunawan Susanto menyatakan sebagai perusahaan Teknologi Informatika terdepan dan kaya pengalaman, IBM terus berinovasi memperluas bisnisnya sejalan dengan perkembangan ekonomi dan kebutuhan TI di Indonesia. Salah satu teknologi terdepan yang kami miliki adalah IBM Intelligent Operation Center (IOC) yang merupakan teknologi yang mengembangkan Smarter City di beberapa negara dunia antara lain Rio de Jeneiro – Brazil dan City of Davao – Filipina.
“Saat ini kami juga membantu kota Bandung menjadi Smarter City pertama di Indonesia dengan menggunakan teknologi IBM IOC yang diterapkan di Bandung Command Center dan berharap banyak kota lain yang mengikuti Bandung di Indonesia” ungkap Gunaan
Lembaga riset Gartner memprediksi sebanyak 1,1 miliar perangkat akan terkoneksi dalam platform smart city sepanjang 2015, di mana angka ini akan melonjak menjadi 9,7 miliar di tahun 2020. Pembangunan smart home dan smart commercial buildings akan mewakili 45 persen dari total connected things di tahun 2015. Dengan peluang investasi dan peningkatan layanan provider, Gartner memprediksi persentase akan meningkat menjadi 81 persen pada tahun 2020.
Peluang bisnis e-commerce juga tak kalah menggairahkan. Brand & Marketing Institute (BMI) Research memprediksi nilai transaksi online di Indonesia akan meningkat signifikan dari Rp21 triliun di 2014 menjadi Rp50 triliun. Riset tersebut mencatat jumlah layanan belanja online sebanyak 24 persen dari total pengguna internet, sementara nilai rata-rata pengeluaran belanja online orang Indonesia dalam setahun mencapai Rp 825 ribu per orang.
Jakarta. Japanese telecommunications and Internet provider SoftBank is leading a $100 million investment in Tokopedia, an Indonesian marketplace firm, in an effort to tap the Southeast Asian country’s burgeoning e-commerce industry, according to an official statement.
The investment round — which will be under SoftBank’s newly formed Softbank Internet and Media Inc. (SIMI), and joined by Sequoia Capital and existing shareholder SB Pan Asia Fund — will pave the way for SIMI and Sequoia Capital’s representatives to join the Indonesian firm’s board of directors.
Nikesh Arora, vice chairman of SoftBank and chief executive of SIMI said there is great potential for online marketplaces in Indonesia.
“In the Asia region, the growth potential for online marketplaces particularly stands out in Indonesia,” Arora said.
“Tokopedia has seen remarkable growth with their innovative business model. Leveraging synergies with our network of Internet businesses, we are confident we can help Tokopedia’s success in the Indonesian market.”
Japanese companies are turning their investment to Indonesia, with over $2 billion worth of mergers and acquisitions in the country last year or over 17 percent of Japan total investment in Southeast Asia.
William Tanuwijaya, chief executive of Tokopedia, said the investment would help Tokopedia to improve human resources, upgrade technology and enhance the design of its services. Tokopedia is competing with Berniaga, OLX, BukaLapak and Kaskus as the top marketplace platform in Indonesia.
The total volume of e-commerce transactions in Indonesia in 2013 was $5 billion despite the fact that Indonesia has one of the slowest Internet speeds in the world. Additionally, Indonesia has one of the lowest rates of Internet penetration of any country in the world.
Agus Tjandra, the deputy chairman of the Indonesia E-Commerce Association, or idEA, expected the transaction volume of online marketplaces to reach $25 billion by 2016.
Bisnis online yang dilakukan pelaku e-commerce sering disebut sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun, hal itu tidak membuat perjalanan industri e-commerce Indonesia berjalan mulus.
Asosiasi e-commerce Indonesia (idEA) mengakui perkembangan bisnis e-commerce sendiri bukan tanpa halangan. Salah satu hal yang dapat menghambat bisnis ini adalah kebijakan pemerintah yang masih menitikberatkan beban pajak kepada pelaku bisnis e-commerce.
“Jangan diberatkan pajak, semisal pajak penjualan, dikasih (pajak) setelah bangun (bisnisnya) belum berapa tahun berdiri bisnisnya,” ujar Wakil Ketua idEA, Agus Tjandra ketika dihubungi merdeka.com, Jakarta, Rabu (10/8).
Kendala lainnya adalah adanya proteksi dari pemerintah untuk memberikan izin mendirikan bisnis e-commerce itu sendiri. “Adanya proteksi misalnya dipermudah izinnya, izinnya diperjelas, jangan diatur terlalu rumit biarkan dibebaskan, yang basic saja,” ungkapnya.
Padahal, kata Agus, di tengah perlambatan ekonomi dalam negeri, bisnis model ini bisa dikatakan ‘tahan banting’. Bahkan, bisnis model tersebut saat ini dalam kondisi stabil dan cenderung mengalami peningkatan.
“Pasar ini menjanjikan, orang-orang fokus bisnis e-commerce di Indonesia karena penetrasinya masih kecil namun value sangat besar, tahun 2013 itu masih (penetrasi) sebesar 0,1 persen. Sehingga, ini berpotensi besar di tengah himpitan ekonomi,” ucap Agus.
Seperti diketahui, sejak tahun 2015, e-commerce telah mendapat perhatian pemerintah. Misalnya, dalam lawatan ke Amerika Serika pada akhir Oktober 2015, Presiden Jokowi bertemu lima perusahaan modal ventura besar. Perusahaan investasi tersebut siap menanamkan modal kepada beberapa perusahaan teknologi informasi Indonesia. Salah satunya adalah Sir Michael Moritz, pemilik Sequoia Capital, dan Queen of The Net Mary Meeker. Sequoia dikenal memiliki banyak portofolio investasi, seperti Apple, Google, YouTube, dan WhatsApp.
Untuk mendorong tumbuhan perdagangan secara elektronik, pemerintah memang membuka pintu bagi investasi asing ke bisnis e-commrce berskala besar. Sebelumnya, bidang usaha ini tertutup 100 persen bagi investor asing. Hal ini dimungkinkan melalui revisi Daftar Negatif Investasi (DNI). [sau]
Kinerja ekonomi pada triwulan I-2015, yang mengalami perlambatan diperkirakan tidak akan memengaruhi bisnis e-commerce. Bahkan, bisnis model tersebut. saat ini dalam kondisi stabil dan cenderung mengalami peningkatan.
Wakil Ketua Asosiasi e-commerce Indonesia (idEA), Agus Tjandra, mengungkapkan alasannya, industri toko online merupakan bisnis yang paling efisien dan murah saat ini. Sebab, tidak memerlukan biaya operasional yang besar seperti, sewa gedung, dan fasilitas perkantoran lainnya.
Pengurangan biaya operasional yang signifikan tersebut dapat dialihfungsikan ke biaya promosi. Dan, harga jual produk bisa lebih terjangkau, karena lebih hematnya biaya operasional yang dikeluarkan pelaku usaha.
CEO sekaligus Founder Lojai.com ini mengatakan, bisnis ini juga telah terbukti tahan krisis. Bahkan, ketika krisis ekonomi 2008 lalu, industri e-commerce justru menopang perekonomian di Amerika Serikat dan China yang pada saat itu sedang terhempas badai krisis.
“Diharapkan, hal itu juga bisa terjadi di Indonesia, saat ekonomi melambat,” ujar Agus dalam siaran pers yang diterima VIVA.co.id, Senin 25 Mei 2015.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan pasar e-commerce sangat menjanjikan. Bisnis online setiap tahunnya terus mengalami peningkatan, baik dari jumlah pedagang maupun transaksi.
Wakil Ketua Asosiasi e-commerce Indonesia (idEA), Agus Tjandra menargetkan, transaksi bisnis online mencapai USD 30 miliar di akhir 2016. Menurutnya, ada empat jenis perdagangan online yang bisnisnya sangat menjanjikan di Indonesia.
“Sektor paling banyak menjanjikan fesyen, gadget dan elektronik, kosmetik dan kecantikan serta furniture,” ujarnya ketika dihubungi merdeka.com, Jakarta, Selasa (9/8).
Menurutnya, fesyen online di Indonesia sangat berkontribusi dalam perkembangan ekosistem belanja online. Setidaknya, pada 2015 lalu pangsa pasar sektor fesyen mencapai 99 persen dengan nilai transaksi USD 2 miliar.
“Tahun ini nilai transaksi di sektor fesyen diperkirakan USD 2,7 miliar dan tahun 2017 mencapai USD 4 miliar,” jelas Agus.
Kedua, bisnis e-commerce yang juga menjanjikan adalah sektor gadget dan elektonik, dengan nilai transaksi pada tahun 2015 sebesar USD 1,3 miliar. Diperkirakan pada tahun ini mencapai USD 1,5 miliar dan tahun 2017 sebesar USD 1,9 miliar.
Ketiga, sektor alat kecantikan atau kosmetik. Pada tahun lalu nilai transaksi sebesar USD 570 juta, tahun ini diperkirakan mencapai USD 676 juta dan tahun depan menyentuh angka USD 804 miliar.
Terakhir, sektor furniture yang tercatat nilai transaksinya mencapai USD 972 miliar di tahun 2015, diperkirakan tahun ini melonjak USD 1,4 miliar dan tahun 2017 mencapai USD 2 miliar. [idr]
Belanja melalui online kini sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan di dalam negeri, terutama di kota besar seperti Jakarta. Selain mudah memilih apa saja barang yang tersedia tanpa perlu repot menghadapi macet, pembeli juga dapat merasakan mudahnya pembayaran dengan beberapa pilihan, termasuk menggunakan kartu kredit.
Pilihan membayar dengan kartu kredit memang sangat menguntungkan dibanding dengan proses pembayaran lainnya. Salah satu keuntungannya adalah mendapatkan diskon lebih besar di merchant yang mendukung pembayaran melalui kartu kredit mitra. Seperti yang ditawarkan idEA (Asosiasi E-commerce Indonesia) mulai bulan Agustus ini.
Bekerja sama dengan MasterCard dan 14 e-commerce di Indonesia, idEA mengadakan Pesta Belanja Online yang akan berlangsung mulai bulan Agustus 2014 hingga Januari 2015 dengan menyediakan berbagai penawaran menarik bagi para pengguna kartu kredit MasterCard.
(kiri-kanan) Irni Palar, Country Manager MasterCard Indonesia, Johanes Chang, Country Head Indonesia, Living Social dan Agus Tjandra, Wakil Ketua, idEA berbicara di sela-sela acara peluncuran Pesta Belanja Online di Senayan Jakarta
E-commerce di Indonesia telah menjadi salah satu industri dengan perkembangan yang cukup pesat. Meskipun demikian, perkembangan tersebut tidak diikuti dengan pertumbuhan sistem pembayaran transaksi elektronik. Menurut MasterCard Online Shopping Behavior Study, sistem konvensional seperti uang tunai masih mendominasi sistem pembayaran online shopping di Indonesia dengan angka 37,9 persen diikuti dengan transfer tunai antar bank dengan angka 27,5 persen.
Sementara itu menurut survei MasterCard yang juga dilaksanakan di 14 negara Asia Pasifik, metode pembayaran yang nyaman (92,6 persen), kecepatan transaksi (92,2 persen), dan fasilitas pembayaran yang aman (92 persen) menjadi tiga faktor utama yang menentukan keputusan beli saat melakukan belanja online. Karenanya penggunaan sistem pembayaran konvensional tentu tidak akan menyediakan metode yang nyaman, cepat, dan aman. Country Manager MasterCard Indonesia Irni Palar menuturkan:
Peluncuran program Pesta Belanja Online ini juga menjadi salah satu komitmen MasterCard untuk mengembangkan bisnis e-commerce di tanah air. Dengan dukungan infrastruktur jaringan yang kuat serta kemitraan dengan bank-bank di tanah air, MasterCard selalu berusaha memberikan solusi pembayaran elektronik yang cepat, aman, dan nyaman hingga keefektifan dan efisiensi yang ditawarkan online shopping dapat dirasakan konsumen Indonesia serta berkontribusi terhadap program Bank Indonesia; Less cash society.
Menariknya, menurut MasterCard Online Shopping Behavior Study, 83,9 persen masyarakat Indonesia memilih online shopping karena adanya penawaran yang menarik. Termasuk dalam bentuk penawaran berupa diskon, undian berhadiah, atau adanya pembebasan ongkos kirim dari pihak penjual. Pertumbuhan kepercayaan orang terhadap online shopping juga didukung dengan faktor eksternal dimana opportunity cost untuk mengganti tenaga dan waktu yang hilang untuk keliling toko atau adanya bahan bakar yang terbuang saat macet-macetan di jalan cenderung cukup tinggi dibandingkan dengan sumber daya yang dibutuhkan dikala pembeli berbelanja secara online.
Menurut Daniel Tumiwa, selaku Ketua Umum idEA, “Kegiatan promosi seperti ini tentunya berdampak positif bagi industri karena berpotensi meningkatkan volume transaksi dari _existing customer_ maupun menjangkau pembeli baru lainnya. Kegiatan ini juga penting untuk semakin membiasakan konsumen Indonesia dengan metode pembayaran yang nyaman di luar transfer bank. Menurut riset kami beberapa waktu lalu, convenience menjadi salah satu faktor penting dalam berbelanja online”.
“Program ini merupakan dukungan kepada pelaku usaha ecommerce dalam mengedukasi pelanggan dan calon pelanggan di Indonesia akan kemudahan, kenyamanan, dan keamanan berbelanja online dengan menggunakan metode pembayaran online,” sambung Johanes Chang, Country Head, Living Social Indonesia yang juga merupakan salah satu anggota idEA. “Sebagai pelaku usaha ecommerce, kami tentunya juga terbantu dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan apabila pembayarannya dilakukan secara online; yang di antaranya adalah konfirmasi pembelian dan pengiriman produk yang lebih cepat,” tambahnya.
Kedepannya masih banyak program lainnya yang akan diluncurkan oleh idEA dan MasterCard sebagai wujud komitmen bersama untuk menjadikan e-commerce Indonesia sebagai pendukung percepatan laju pertumbuhan ekonomi di negara ini.
Sebagai tambahan, idEA yang dibentuk pada Mei 2012 merupakan wadah bagi para pemain industri e-commerce negeri ini untuk berinteraksi dengan sesama pemain dan juga pemerintah. Saat ini anggota asosiasi mencakup 45 pemain dari kategori online retail, marketplace, daily deal, iklan baris, pembanding harga, travel, sistem pembayaran, logistik, dan beberapa partner strategis terkait.
Mereka juga memiliki misi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara berbasis ekonomi digital melalui kemitraan dengan para partner di tanah air yang dapat turut mewujudkan pertumbuhan e-commerce Indonesia, disamping terus mengadakan program edukasi dan sosialisasi mengenai industri ini.